Wednesday, April 29, 2009
Cara Alternatif Menyiksa Orang
Sebenernya cuma mau bilang satu kalimat doang tapi kalau ditulis di blog wordpress ntar takutnya jadi masalah.. ditulis di facebook juga.. di status YM juga.. hehehe.. kalo disimpen aja takutnya membusuk.. ya udah ditulis di sini aja..
Cuma mau bilang kalau ingin menyiksa seseorang ga susah-susah amat.. cukup jangan maafkan kalau dia minta maaf terutama kalau memang dia yang salah.. jangan kasih tahu apa kesalahannya tapi juga jangan bilang dia tidak bersalah.. jangan biarkan dia mencoba memperbaiki kesalahannya tapi juga jangan lupa menyiratkan kalau dia bersalah.. setidaknya metode ini sudah terbukti berhasil ketika dicobakan pada satu orang..Tanya siapa? Ya yang menuliskan post ini tentu saja..
Friday, June 6, 2008
Sebuah Cerita tentang Hidup yang Biasa
Namun sejujurnya alasan kenapa aku suka dengan cerita yang penuh depresi dan kesedihan adalah supaya aku bisa menangis, menangisi hidupku. Karena tanpa cerita sedih itu aku tidak bisa menangisi hidupku. Tanpa cerita-cerita itu aku tidak akan punya alasan untuk menangisi hidupku.
Monday, January 14, 2008
It Hurt Inside
Surely it hurts,,
I can’t breath,,
I can’t think,,
I can’t feel anything but pain,,
Surely it hurts,,
It cracks my head,,
tears me apart,,
hits me down to hell,,
Surely it hurts,,
tears keep flowing down,,
but why the pain aren’t going??
Friday, January 11, 2008
Tuhan, Maafkan Aku..
Maafkan aku yang selalu berharap lebih dari apa yang telah Engkau berikan
Maafkan aku yang tak jua bersyukur atas semua yang Kau limpahkan
Maafkan aku yang dalam doa-doaku selalu menununtut lebih, lebih, dan lebih
Maafkan aku yang dalam setiap tangisku selalu menyalahkan-Mu atas apa yang tak bisa kuraih
maafkan aku yang selalu berprasangka tiap kali tak Kau kabulkan pintaku
Tuhan, maafkanlah aku..
****
Depok, 11 Januari 2008
Peron stasiun UI
Monday, November 19, 2007
Hati yang Terluka
“Na.. ikutan gokon[1] yuuk..”
Na cuma diam memandang temannya itu.
“Come on girl.. Gue jamin cowok-cowoknya oke.”
Na kembali diam, tak menghiraukan ajakan temannya. Dia kembali fokus membaca buku yang sedari tadi di pegangnya. Temannya menarik buku dari tangan Na dengan kesal.
“Listen ya girl, lu itu kerjaannya cuman kuliah, dengerin dosen, nyatet, trus begitu selesai kuliah langsung ngacir pulang ke kosan. And di kosan lu cuman baca buku kuliah kalo ga baca buku-buku yang hell no sane teenager will understand the content..”
Teman Na menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya
“Gue, sebagai temen seangkatan lu, sebagaimana selalu ditekankan oleh senior-senior kita smasa PPAM[2], berkewajiban nolongin lu sebelum lu terjerumus lebih parah ke dunia orang-orang freak.. dunia yang terisolasi.. So, dengerin nasihat gue, dandan yang manis dan kita berangkat gokon.”
Na memandang temannya yang sedang mengatur napasnya, kepayahan gara-gara bicara tanpa ada titik koma.
“Dengerin ya Shinta sayang,,udah berapa kali gue bilang kalo i’m not that kind of person.. Gue ini anak rumahan yang ga suka jalan.. Gue lebih suka baca..” kata Na sambil merebut kembali bukunya dari tangan temannya.
Shinta, teman Na, menghela napas panjang melihat Na yang kembali menekuri bukunya seakan tak ada lagi hal yang menarik di dunia ini selain buku itu.
“Na, udah lama gue mau nanya apa sih yang terjadi selama lu pulang liburan kemaren? Tapi karena gue takut lu tersinggung atau nganggep gue terlalu ikut campur.. makanya selama ini gue diem aja ngeliat perubahan lu.”
“Berubah gimana Shin?” Na meletakkan bukunya dan memandang dirinya dari atas ke bawah. “Gue tetep gini-gini aja kok. Berat gue ga naik juga ga turun. Sama aja.”
Shinta memukul kepala Na pelan. “Bukan physicly dudul! Inside..” Shinta menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Lu lebih pendiem than before. Lebih ga socialize..lebih menarik diri. Seenggaknya walaupun dulu lu ga bisa dibilang anak gaul, tapi lu ga segitunya menarik diri dari pergaulan. Lu itu sekarang.. Apa ya.. kayak bikin barikade sama sekitar lu Na.. Bahkan ama gue yang nganggep lu sobat sehidup semati aja lu ga peduliin..”
Na memandang temannya. Haru menyeruak ke dalam dadanya. Duh ternyata luka di hatiku ini telah aku sebarkan ke orang-orang sekitar yang aku sayangi, bahkan tanpa aku sadari. Haah,, semua memang karena dia,, Karena dia menempati hampir seluruh ruang di hatiku, makanya ketika dia pergi, luka hati ini terlampau besar terlampau dalam. Kupikir dengan kesendirian dia akan lebih mudah terlupakan, namun ternyata aku salah. Selain dia belum juga dapat terlupakan aku malah menyebabkan orang lain yang peduli padaku jadi terluka.
Na memeluk Shinta erat.
“Hey Whatsup girl?” kata Shinta heran
“Nothing,,” Na melepaskan pelukannya. Shinta memandangnya heran. Na tahu temannya ini ingin bertanya tapi urung karena mempertimbangkan perasaannya.
“Shin, someday i’ll tell you what happen. But not now, not today. Ntar kalau gue udah siap buat cerita.”
Shinta cuma tersenyum mendengar kata-kata Na.
“Okeh deh.. Tapi right now..” kata Shinta sambil menarik Na untuk bangkit dari duduknya “..You have to accompany me..”
Na memandang Shinta dengan pandangan penuh tanya
“Ke gokon girl..“
“Noo…” teriak Na sambil berusaha melepaskan diri. Namun Shinta memperkuat tarikan tangannya dan menyeret Na keluar dari kamarnya..
***
—————————-
[1] Jp. kumpul-kumpul antara cewek cowok semacam blind date. It’s not that Na sekarang pindah ke Jepang, yang nulis cuma pengen gunain istilah itu aja..Mohon maklum..
[2] istilah OSPEKnya anak Teknik UI.. lagi kangen aja ama istilah itu
Sosok Kecil Menerjang Hujan
” Emang bayar ujian ama SPP-nya berapa?”
” Ujiannya bayar tiga ratus ribu, itu udah ama uang rekreasi.. trus SPP-nya sebulan dua puluh ribu tapi Mia nunggak tiga bulan.”
Kutatap matanya, mencoba mencari sebersit kebohongan di sana, namun yang kutemukan hanyalah sepasang mata polos, jernih, dan penuh harapan. Sesosok tubuh kecil yang menyimpan semangat besar, semangat perubahan..
”Yang bilang Mia ga boleh sekolah lagi siapa?”
”Kepala sekolahnya.. beliau bilang Mia ga usah masuk sekolah kalo ga bawa duitnya”
”Bapak ibu Mia udah tau?”
Sosok kecil itu terdiam,, mata yang tadi menyala riang kini mulai meredup.. Di tengah hujan sosok kecil itu seakan menghilang,,
”Kata bapak, bapak ga punya duit.. jadi Mia ga usah sekolah dulu aja” Katanya pelan,, hampir tak terdengar karena termakan oleh derasnya hujan..
Dia lalu berceloteh mengenai sekolahnya, teman-temannya, dan kondisi keluarganya. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Bapaknya buruh bangunan yang bekerja bila ada proyek, ibunya tukang cuci pakaian. Ibunya baru saja dioperasi supaya adiknya yang bungsu lahir dengan selamat. Bapaknya hutang pada rentenir untuk menutupi biaya operasi. Sementara kakaknya yang nomor dua juga sering sakit-sakitan.
Ketika kutanya prestasinya di sekolah dengan malu-malu dia menjawab, ”Sebenernya kemaren Mia ditunjuk buat ngasih pidato perpisahan kak.. Tapi kayaknya Mia ga jadi deh karena Mia kan ga sekolah lagi..”
Hujan turun dengan deras dan petir menggelegar.. Sosok kecil itu mulai menggigil kedinginan..
“Yak,, nyampe deh bos,, selamat tiba di tujuan” Katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku tersenyum melihat tingkahnya, bagai monyet kecil yang tak sabar menunggu diberi pisang.. Kuulurkan tangan memberinya upah yang diminta. Dia cuma memandangi uang yang sekarang di tangan.
“Kenapa? Kurang?”
“Hehehe,, ga kok,, cukup-cukup,, kirain karena uda ditemenin ngobrol bakal dikasih lebih..hehehe” katanya dengan tawa lebar
“Heeh,, dasar!!”
Kupukul lembut kepalanya,, kuusap rambutnya,, kasar, merah tak terawat..
“Dadah kakak,, makasih ya,,”
Dia kembali menerjang hujan sambil melambaikan tangan. Aku memandang sosoknya yang kian menghilang ditelan hujan..
****
Tuesday, November 13, 2007
Duh, Cinta..
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang telah menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Kupandangi kertas lusuh berisikan puisi [1] darinya dengan mata berkaca-kaca. Puisi yang katanya menggambarkan perasaan hatinya padaku. Puisi yang telah membuat aku jatuh hati padanya dan menyerahkan seluruh hidupku untuknya. Puisi yang dulu mengantarkanku pada taman surga. Namun ini juga puisi yang sama yang sekarang mengantarkanku pada neraka.
“Ah, masih kau simpan puisi itu rupanya. Ku pikir kau telah lupa dan membuangnya entah kemana.”
Walau aku tak menoleh padanya aku tau itu adalah suaranya, dia yang kucinta, namun pedih hati ini telah membuat aku tak sanggup menatap wajahnya. Ia yang mengerti pedih hatiku mulai mendekat dan berbicara, “Aku ingat waktu itu, bagimana takutnya aku menyerahkan puisi itu padamu. Takut kau akan menolakku atau bahkan lebih buruk, mengabaikanku.”
Aku membiarkan tangannya mengusap kepalaku, bentuk ungkapan kasih sayang yang dulu amat kusuka dan kurindu, namun sekarang terasa seperti hantaman palu ke kepala.
Hari ini ia terlihat begitu tampan, mengenakan beskap dan blangkon, membuatku teringat pada hari pernikahan kami. Waktu aku melihatnya hari itu, jantung ini bedegup begitu kencang, merasa khawatir sekaligus berbunga-bunga, ah, inikah orang yang mana akan kuhabiskan hidupku bersamanya, yang akan kucinta dan mencintaku selamanya. Sekarang dia hadir kembali dengan beskap dan blangkonnya, namun untuk membagi hatinya dan juga cintanya dengan yang lain.
“Sayang, terima kasih telah mengerti aku.. Terima kasih telah menerima pernikahan ini dan menerima dia.. Aku yakin kalian akan menjadi saudara karena kalian berdua adalah wanita yang aku cinta.“
Ah, wajahku hanya berhiaskan senyum getir.. Tak tahukah kamu hati ini tak rela menerimanya? Hati ini sungguh terluka ketika kau bilang kau telah membagi cintamu kepadanya? Cinta yang dulu kau bilang hanya ada untukku dan selamanya hanya untukku..
Dia melihat ke arah jam dinding yang tergolek pasrah di dinding. Sama seperti diriku hari ini pasrah menerima yang lain dalam kehidupan perkawinan kami.. “Sayang, waktunya sudah dekat.. Kau mau kan mendampingiku?“ Ia mengulurkan tangannya padaku dan aku hanya bisa memandanginya sebelum akhirnya berkata, “Duluan saja, nanti aku akan menyusul. Aku hendak merapikan riasan wajahku dulu.“
Ia tersenyum, wajahnya berseri-seri, bahagiakah dia? Ah, semoga, karena bukankah aku rela menyiksa batin ini demi kebahagiaannya? Kebahagiaan dia yang kucinta.
„Ya, sudah, tapi jangan lama-lama.” Katanya. Aku cuma mengangguk pasrah.
Terdengar pintu tertutup. Dan air mata ini mulai meleleh, hati ini mulai terasa pedih, perih. Di balik pintu itu ada neraka untukku. Ah, bukan, bukan neraka tapi surga, kata ustadz yang dibawa olehnya sewaktu meminta izin padaku untuk menikah lagi. Aku tersenyum getir, ah ustadz, apakah surga itu masih tersedia kalau ternyata hati ini terasa perih dan sakit, kalau ternyata aku tak pernah bisa rela melepaskannya untuk wanita lain? Kalau ternyata dihati ini tersimpang benci dan dendam pada wanita yang telah merebut hatinya?
Kulihat kembali kertas lusuh berisikan puisi yang kusimpan belasan tahun. Duh api, apakah aku juga harus terbakar menjadi abu untuk cinta ini?
———————————————————————–
[1] Puisi berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono
Wednesday, October 10, 2007
Dan Ketika Sinta Ditolak Rama
Sinta adalah istri Rama, tertulis dengan jelas di cerita Ramayana. Sinta adalah wanita yang sangat-sangat diinginkan oleh Rahwana hingga Rahwana berusaha dengan berbagai macam cara baik halal maupun tidak untuk mendapatkannya. Sinta adalah kakak ipar Laksmana yang dijaganya dengan jiwa dan raga. Sinta adalah istri dan wanita yang dipuja. Sinta adalah wanita yang berbahagia.
Lalu ketika Sinta diculik Rahwana, mulai bergulirlah cerita Ramayana. Hari-hari berlalu dan Sinta dipuja di Istana Alengka. Namun, Sinta adalah wanita yang menjaga kesucian hati dan raganya. Sinta adalah wanita yang hanya mencintai satu lelaki dalam hidupnya sehingga tak bisa menerima Rahwana sebagai pengganti Rama. Tak bisa menerima kebaikan Rahwana dalam hatinya. Dan Sinta adalah wanita yang selalu setia menunggu Rama. Menunggu Rama untuk menjemput dirinya.
Sinta yang merupakan kebanggaan Rama berusaha untuk direbut dari tangan Rahwana. Sinta harus direbut apapun caranya, apapun resikonya, apapun konsekuensinya. Sinta harus kembali ke pelukan Rama walaupun harus terjadi perang antara dua negara, walaupun harus ada nyawa, harta dan tenaga yang dikorbankan. Sinta harus kembali walaupun Ngalengka diobong, walaupun nyawa Hanoman, si kethek putih, taruhannya.
Ketika Sinta berhasil kembali pada Rama dengan pengorbanan jiwa dan raga, Sinta ditolak Rama. Kesucian Sinta yang selalu dijaganya itu tak mendapat pengakuan dari Rama. Sinta adalah wanita yang bahkan oleh suaminya sendiri tak dipercaya dapat menjaga kesucian dirinya.
Ketika Sinta ditolak Rama, Sinta tak bisa lagi menjadi istri Rama. Bukan lagi kakak ipar Laksmana. Bukan lagi wanita idaman Rahwana. Sinta bukan lagi wanita yang dipuja. Sinta adalah wanita yang kecewa dan merana.
Dan ketika Sinta ditolak Rama, Sinta bersikukuh mempertahankan cintanya pada Rama. Sinta menerjunkan diri dalam api sebagai bukti sucinya hati dan raganya yang akan selalu mencintai Rama. Sebagai bukti cinta Sinta hanya untuk Rama dan satu-satunya lelaki untuk Sinta hanyalah Rama.
Dan ketika dewata menyelamatkan Sinta dari kobaran api, Sinta kembali ke pelukan Rama.
***
Bagiku Cinta Itu …
”Harusnya kau tak usah datang ke sini..” kata gadis itu dengan acuh tak acuh
Pemuda itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, ”Memangnya kenapa aku tak seharusnya datang ke sini?”
Gadis itu memandang mata si pemuda dengan tajam namun dengan cepat ia lalu mengalihkan pandangannya .. menerawang jauh ke depan..
”Kamu tahu kalau aku tak akan pernah bisa memberikan apa yang kau pinta. Untuk apa menyia-nyiakan waktumu dengan datang menemuiku?”
Pemuda itu memejamkan matanya seakan mencoba mencari setitik cahaya yang akan menerangi kegelapan jalan yang sedang membentang dihadapannya. Begitu membuka mata, ia lalu menatap si gadis. ”Tak ada salahnya mencoba. Tak ada salahnya pula memperjuangkan apa yang ingin aku dapatkan.”
Gadis itu menyibukkan dirinya dengan memainkan jemari. Pandangannya terfokus ke sana seakan-akan permainan itu sangat mengasyikkan sampai-sampai tak ada lagi yang lebih berharga untuk diperhatikan.
”Kau minta terlalu banyak.”
Kali ini gadis itu menghela napas panjang. Ia menghentikan permainan jarinya dan mulai mengalihkan pandangannya ke arah si pemuda. Dengan dingin ia berkata, ”Kau meminta cinta dariku sedangkan itu adalah sesuatu yang tak aku miliki. Bagaimana aku bisa memberimu sesuatu yang bahkan aku sendiri tak mempunyai kepemilikan atas itu?”
Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya, kali ini tertuju pada rumpun mawar yang tak jua kunjung berbunga.
”Bagiku..” Gadis itu berhenti sebentar, menghela napas dan menelan ludah. ”Cinta itu hanyalah untaian kata manis yang terangkai dalam satu roman sastra. Pemanis karangan belaka.”
Kembali ia menghela napas tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya. Ia meneruskan uraiannya dengan nada yang sedikit mengandung kegetiran, ”Cinta itu hanya rangkaian melodi yang dialunkan oleh pemusik untuk memikat hati pendengarnya. Cinta itu sajak yang dilagukan oleh penyair. Cinta itu..buatku hanya ada dalam lembaran kertas roman yang kubaca, musik yang kudengar, dan sajak yang kudendang. Kuberikan roman yang kubaca, lagu yang kudengar, dan sajak yang kudendang, tapi katamu itu tak cukup. Kau minta cinta yang ada di hatiku, cinta yang tulus dari dalam sini.”
Gadis itu berhenti sejenak untuk menunjuk hatinya, ”Cinta itu tak penah ada di hatiku, tak pernah terasa, dan tak pernah terwujud. Jadi bagaimana aku bisa memberikannya?”
Pemuda itu terdiam, membisu, tak mampu berkata.
“Sekarang sudahkah kau mengerti? Kumohon pulanglah.. Lebih baik kau jangan lagi berharap padaku.”
Gadis itu bangkit dari duduknya dan kembali berkata namun kali ini dengan lirih dan terdengar sedikit pedih, ”Semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu.. Tapi itu bukan aku..”
——————————-