Sosok Kecil Menerjang Hujan
Sosok kecil itu menerjang hujan, terlihat rapuh seakan-akan ia bisa hilang diterpa angin.. Sosok kecil itu berlari menghampiriku. Dengan matanya yang jernih ia memandangku dan dengan suaranya yang kekanakan ia menyapaku..
”Ojek payung kak? Dari pada basah ntar sakit lho..”
Mia namanya. Berceloteh riang sambil menyeka butiran hujan di wajahnya. Anak yang ceria dan lincah.. namun menyimpan sejuta kesedihan dimatanya.
”Mia sekarang duduk di kelas 6 SD dan sebentar lagi mau ujian. Tapi Mia ga punya duit.. jadi belum bisa bayar uang ujian dan uang SPP.. trus kata gurunya kalo Mia ampe besok ga bayar-bayar juga, Mia ga boleh ikut ujian dan ga boleh masuk sekolah.. padahal Mia pengen sekolah.. pengen ujian biar nanti bisa ngelanjutin ke SMP..”
” Emang bayar ujian ama SPP-nya berapa?”
” Ujiannya bayar tiga ratus ribu, itu udah ama uang rekreasi.. trus SPP-nya sebulan dua puluh ribu tapi Mia nunggak tiga bulan.”
Kutatap matanya, mencoba mencari sebersit kebohongan di sana, namun yang kutemukan hanyalah sepasang mata polos, jernih, dan penuh harapan. Sesosok tubuh kecil yang menyimpan semangat besar, semangat perubahan..
”Yang bilang Mia ga boleh sekolah lagi siapa?”
”Kepala sekolahnya.. beliau bilang Mia ga usah masuk sekolah kalo ga bawa duitnya”
”Bapak ibu Mia udah tau?”
Sosok kecil itu terdiam,, mata yang tadi menyala riang kini mulai meredup.. Di tengah hujan sosok kecil itu seakan menghilang,,
”Kata bapak, bapak ga punya duit.. jadi Mia ga usah sekolah dulu aja” Katanya pelan,, hampir tak terdengar karena termakan oleh derasnya hujan..
Dia lalu berceloteh mengenai sekolahnya, teman-temannya, dan kondisi keluarganya. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Bapaknya buruh bangunan yang bekerja bila ada proyek, ibunya tukang cuci pakaian. Ibunya baru saja dioperasi supaya adiknya yang bungsu lahir dengan selamat. Bapaknya hutang pada rentenir untuk menutupi biaya operasi. Sementara kakaknya yang nomor dua juga sering sakit-sakitan.
Ketika kutanya prestasinya di sekolah dengan malu-malu dia menjawab, ”Sebenernya kemaren Mia ditunjuk buat ngasih pidato perpisahan kak.. Tapi kayaknya Mia ga jadi deh karena Mia kan ga sekolah lagi..”
Hujan turun dengan deras dan petir menggelegar.. Sosok kecil itu mulai menggigil kedinginan..
” Emang bayar ujian ama SPP-nya berapa?”
” Ujiannya bayar tiga ratus ribu, itu udah ama uang rekreasi.. trus SPP-nya sebulan dua puluh ribu tapi Mia nunggak tiga bulan.”
Kutatap matanya, mencoba mencari sebersit kebohongan di sana, namun yang kutemukan hanyalah sepasang mata polos, jernih, dan penuh harapan. Sesosok tubuh kecil yang menyimpan semangat besar, semangat perubahan..
”Yang bilang Mia ga boleh sekolah lagi siapa?”
”Kepala sekolahnya.. beliau bilang Mia ga usah masuk sekolah kalo ga bawa duitnya”
”Bapak ibu Mia udah tau?”
Sosok kecil itu terdiam,, mata yang tadi menyala riang kini mulai meredup.. Di tengah hujan sosok kecil itu seakan menghilang,,
”Kata bapak, bapak ga punya duit.. jadi Mia ga usah sekolah dulu aja” Katanya pelan,, hampir tak terdengar karena termakan oleh derasnya hujan..
Dia lalu berceloteh mengenai sekolahnya, teman-temannya, dan kondisi keluarganya. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Bapaknya buruh bangunan yang bekerja bila ada proyek, ibunya tukang cuci pakaian. Ibunya baru saja dioperasi supaya adiknya yang bungsu lahir dengan selamat. Bapaknya hutang pada rentenir untuk menutupi biaya operasi. Sementara kakaknya yang nomor dua juga sering sakit-sakitan.
Ketika kutanya prestasinya di sekolah dengan malu-malu dia menjawab, ”Sebenernya kemaren Mia ditunjuk buat ngasih pidato perpisahan kak.. Tapi kayaknya Mia ga jadi deh karena Mia kan ga sekolah lagi..”
Hujan turun dengan deras dan petir menggelegar.. Sosok kecil itu mulai menggigil kedinginan..
“Yak,, nyampe deh bos,, selamat tiba di tujuan” Katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku tersenyum melihat tingkahnya, bagai monyet kecil yang tak sabar menunggu diberi pisang.. Kuulurkan tangan memberinya upah yang diminta. Dia cuma memandangi uang yang sekarang di tangan.
“Kenapa? Kurang?”
“Hehehe,, ga kok,, cukup-cukup,, kirain karena uda ditemenin ngobrol bakal dikasih lebih..hehehe” katanya dengan tawa lebar
“Heeh,, dasar!!”
Kupukul lembut kepalanya,, kuusap rambutnya,, kasar, merah tak terawat..
“Dadah kakak,, makasih ya,,”
Dia kembali menerjang hujan sambil melambaikan tangan. Aku memandang sosoknya yang kian menghilang ditelan hujan..
****
Posted by in 07:51:34